Menteri Keuangan Sri Mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani

Sri Mulyani: Kenaikan 1% dari PPN Ini Masih di Bawah Rata-rata PPN Dunia

Jakarta, EKRAF.net – Tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) akan naik 1% pada 1 April 2022, menjadi 11%. Menurut Menteri Keuangan, Sri Mulyani, kenaikan tersebut masih berada di bawah rata-rata PPN dunia.

Ketika berbicara sebagai narasumber CNBC Indonesia Economic Outlook 2022, Sri Mulyani membandingkan tarif PPN Indonesia dengan berbagai negara anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/ OECD) dan seluruh dunia.

“Kalau rata-rata PPN di seluruh dunia itu ada di 15%, kalau kita lihat negara OECD dan yang lain-lain, Indonesia ada di 10%. Kita naikkan 11% dan nanti 12% pada tahun 2025,” ujar Sri Mulyani, Selasa (22/3/2022).

Alasan Kenaikan

Kenaikan tarif PPN ini bertujuan memperkuat fondasi perpajakan. Sebagaimana dikutip dari Katadata, Sri Mulyani menjelaskan, pihaknya melihat APBN bekerja sangat keras selama pandemi.

“Kami ingin menyehatkannya. Jadi kami lihat mana-mana yang masih ada ruangnya,” kata Sri Mulyani.

Kenaikan tarif PPN ini juga didasari oleh pertimbangan kebutuhan penerimaan pajak untuk mendukung target pembangunan Indonesia ke depan.

“Karena kita menggunakannya kembali untuk masyarakat, fondasinya tetap harus disiapkan. Kalau tidak, kita nanti kehilangan kesempatan,” katanya.


Baca juga:


Secara lebih detail, Sri Mulyani juga uraikan, Indonesia masih butuh pendidikan yang makin baik, kesehatan yang makin baik, TNI yang makin kuat, polisi yang makin hebat supaya kepastian hukum bagus, keamanan bagus.

“Itu semuanya bisa dikerjakan, kita capai, dan kita bangun setahap demi setahap kalau pondasi pajak kuat,” pungkas Menkeu.

Lonjakan Penerimaan Negara  

Pada pertengahan Maret, Sri Mulyani juga menunjukkan, penerimaan negara pada Januari 2022 mengalami lonjakan. Per 31 Januari 2022, negara menerima pemasukan sebesar 156 triliun Rupiah.

Jumlah tersebut setara dengan kenaikan 56% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang hanya mencapai 100,7 triliun Rupiah.

Perihal kenaikan penerimaan ini, faktor yang memengaruhinya adalah penerimaan komoditas dan pemulihan penerimaan perpajakan, yaitu Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). ***(TP)

Sumber: Kemenkeu & Katadata  

Foto: Kemenkeu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *