Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi

Mendag: Dua Cara Indonesia Keluar Middle Income Trap!

Jakarta, EKRAF.net – Selain pandemi, saat ini Indonesia juga hadapi tantangan middle income trap, sebuah jebakan yang melanda negara berpendapatan menengah. Hal ini disampaikan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam Gambir Trade Talk (GTT) #5 secara daring, Kamis (24/2/2022).

Tanda bahwa Indonesia telah masuk kategori negara berpendapatan menengah adalah jumlah GDP perkapita yang telah mencapai sekitar 4 ribu USD.

Dengan menunjuk data, Lutfi menyebutkan, dalam waktu 20 tahun, antara 1998 hingga 2018, pertumbuhan ekonomi Indonesia capai 10 kali lipat. Pada tahun 1998, GDP perkapita Indonesia hanya 463 USD.

Middle income trap ini akan menjerat Indonesia jika sebagai bangsa tidak bisa mengoptimalkan bonus demografi.

Bonus demografi Indonesia berakhir, menurut hitungan, antara tahun 2038 hingga 2040.

“Menurut studi OECD, tidak ada satu negara di dunia yang bisa keluar dari middle income trap atau jebakan kelas menengah ini, menjadi negara berpendapatan tinggi ketika orang tuanya lebih banyak daripada orang mudanya,” ujar Lutfi.

Lebih lanjut, Lutfi menyebut hanya ada dua solusi yang harus dilakukan Indonesia jika ingin keluar dari middle income trap. Solusi itu adalah investasi infrastruktur dan transfer teknologi


Baca juga:


“Oleh karena itu, Bapak dan Ibu, kita sedang sedang bergegas. Kalau kita lihat Pak Jokowi luar biasa bangun infrastruktur,” kata Lutfi.

Pada kesempatan tersebut, Lutfi juga mengatakan, yang sekarang kita mau ikuti adalah transfer teknologi.  

“Karena hanya dengan transfer teknologi kita dapat menaikkan secara eksponensial daripada trajectory pertumbuhan dan pendapatan perkapita Indonesia,” ujarnya.

Lutfi menunjukkan data ekspor non migas Indonesia pada 2021.

“Empat dari lima produk ekspor utama merupakan barang-barang industri dan industri berteknologi tinggi. Komoditas tersebut adalah CPO dan turunannya (32,83 miliar USD); besi baja (20,95 miliar USD); produk elektrik dan elektronika (11,80 miliar USD); serta kendaraan bermotor dan suku cadangnya (8,64 miliar USD),” ungkap Lutfi.

Ia menyatakan, capaian ekspor 2021 ini adalah komitmen Indonesia terhadap hilirisasi produk pertambangan yang akan menjadi game changer Indonesia di masa yang akan datang.***(TP)

Foto: BPPP Kemendag/ Youtube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *