PEN subsektor film

PEN subsektor film

Dua Hal Ini Jadikan Subsektor Film Jadi Program PEN

Jakarta, EKRAF.net – Antara Oktober hingga Desember 2021, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) membuka program pemulihan ekonomi nasional (PEN) subsektor film. Sebagai salah satu dari 17 subsektor ekonomi kreatif, film memiliki peran strategis untuk program PEN.

Setidaknya ada dua pertimbangan strategis yang menentukan subsektor film sebagai pilihan pemerintah, khususnya Kemenparekraf.

Pertama, subsektor film mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Kedua, subsektor ini memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang mampu mendongkrak ekonomi dan kontribusinya kepada pendapatan domestik bruto (PDB).

Produksi film pendek, film dokumenter dan film layar lebar akan melibatkan banyak tenaga kerja langsung atau tenaga (pekerja) kreatif. Produksi film membutuhkan produser, sutradara, penulis skenario, penata kamera, penata artistik, penata musik, editor, pengisi dan penata suara, hingga aktor-aktris. Sedangkan yang dimaksud dengan tenaga kerja tidak langsung adalah catering, kru film, kendaraan film, hingga pekerja bioskop yang jumlahnya mencapai ratusan ribu pekerja. 


Baca juga: Dua Ganjaran Ini Layak Kamu Raih di Indonesiana Film 2022


Melalui keterangan resminya, Kamis (9/11/2021), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menjelaskan, PEN subsektor film ini bertujuan mendorong produksi film nasional. Dengan demikian, program ini akan menghasilkan film berkualitas dan menjadi magnet bagi masyarakat untuk menontonnya di bioskop. Selain itu, masyarkat akan terdorong untuk mencintai film nasional.

“Pulihnya kepercayaan masyarakat pada bioskop di tengah pandemi harus ditingkatkan dengan memperbanyak produksi film nasional berkualitas sehingga penonton memiliki banyak pilihan,” ujar Sandiaga.

Dampak PEN subsektor film

Program PEN subsektor film terbagi ke dalam tiga skema, yaitu skema promosi, produksi dan pra-produksi.

Keterangan resmi Kemenparekraf menyebutkan, dana PEN subsektor film untuk skema promosi telah menggelontorkan 33 miliar Rupiah kepada 22 rumah produksi yang memproduksi 22 film. Setiap produksi mendapatkan dana stimulus sebesar 1,5 miliar Rupiah untuk promosi film. Sejumlah film yang mendapatkan dana PEN ini adalah “Akhirat: A Love Story”, “Paranoia”, “Cinta Bete”, “Yo Wis Ben 3”, dan “Kadet 1947”. 

Hasilnya, film “Yo Wis Ben 3” meraih 214.315 penonton. Sedangkan film “Paranoia” mendapatkan 76.614 penonton. Ini semua adalah angka sementara.


Baca juga: Ini Kriteria Cerita yang Dicari di Indonesiana Film 2022


Sementara untuk stimulus PEN film skema produksi, 26 rumah produksi komunitas dan 27 rumah produksi yang akan memproduksi film pendek telah menerima dana 12,93 miliar Rupiah.

Setiap judul film dokumenter dan film pendek mendapatkan stimulus 250 juta Rupiah. Dana produksi dari pemerintah ini diharapkan akan menghasilkan film berkualitas dan dapat mengikuti festival film internasional.

Sedangkan untuk dana bantuan PEN subsektor film skema pra-produksi sejumlah 68,9 miliar Rupiah telah tersalurkan kepada 50 rumah produksi yang akan memproduksi film layar lebar. Setiap film layar lebar akan memperoleh dana bantuan 860 juta Rupiah.

Dengan demikian, total dana PEN subsektor film yang telah digelontorkan pemerintah sebesar 114,883 miliar Rupiah dari anggaran yang tersedia sebesar 136,5 miliar Rupiah. Dari program PEN subsektor film ini, diperkirakan dapat menyerap 14.671 tenaga kerja, baik tenaga kerja langsung maupun tenaga kerja kreatif.

Jika kamu ingin menonton film-film ini, santai sejenak ya karena film-film tersebut akan mulai tayang di awal tahun 2022.***(TP)

Sumber & foto: Kemenparekraf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *