Founder Lotus Group

Founder Lotus Group (Afra Viena, Lidya Valensia dan Djohan)

Dua Strategi Sovlo Ini Selamatkan Lotus Group

Jakarta, EKRAF.net – Masa pandemi menunjukkan siapa yang mampu bertahan dan siapa yang kalah. Yang bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi dan menemukan solusi di masa sulit. Salah satu yang berhasil di masa ini adalah Lotus Group, sebuah perusahaan spesialis stylish souvenirs. Lotus Group melakukan sejumlah strategi bisnis yang membuatnya tidak hanya bertahan, namun melahirkan lini bisnis baru bernama Sovlo, pada Juni 2020.

Tahun 2020, Lotus Group harus bertahan dan melindungi 40 penjahit dan 30 staf kantor. Tantangan ini menemukan jawabannya dari fenomena digitalisasi. Konsumen semakin banyak yang berbelanja secara daring melalui e-commerce. Melihat fenomena ini, Lotus Group beralih ke ranah digital untuk menjangkau konsumen dengan melahirkan Sovlo (Souvenir Lokal).

“Ketika itulah, muncul ide melahirkan brand baru berupa produk fesyen siap beli untuk masyarakat umum, sekaligus memanfaatkan platform e-commerce yang tengah menjamur di tengah pandemi,” tutur Lidya Valensia, CEO dan Founder Sovlo.

Peralihan ke platform baru bukanlah sesuatu yang mudah jika tanpa strategi marketing yang jitu. Sovlo menyadari hal ini. Untuk mendapatkan perhatian konsumen, Sovlo meluncurkan tema ilustrasi. Satu tema yang berhasil merebut perhatian konsumen adalah Strong Woman.

Hingga saat ini, Sovlo konsisten menggunakan tema-tema positif yang memberdayakan konsumen. Dengan strategi ini, Sovlo mau mengajak setiap orang untuk saling menguatkan dalam semangat kebersamaan. Hal ini tampak dari tema yang digunakan seperti Strong Woman, Indonesian Strong Woman, Kembang Nusantara, Grateful Indonesia, Colourful Indonesia, Indonesian Brave Kids, Indonesian Strong Woman & Her Pets, Tanaman Hias, Indonesian Heroes dan Indonesia Maju


Baca juga: Bangun Koperasi Itu Simple!


Perihal tema positif ini, Sovlo mendapatkan tanggapan dari konsumen. Mereka yang membeli produk Sovlo, rupanya, mengirimkan produk itu kepada teman dan kerabat mereka. Tujuannya adalah untuk saling menguatkan di masa pandemi.

“Itu kami tahu dari feedback di platform e-commerce sendiri. Kami sangat terharu membaca testimoni semacam itu. Padahal tanpa konsumen sadari, bahwa kami, termasuk staf dan penjahit juga sangat tertolong berkat kepedulian para konsumen yang menyukai produk kami,” ungkap Lidya.

Namun Lidya juga menyadari tidak selamanya mampu bertahan dengan mengandalkan sumber daya internal dalam hal ilustrasi yang menarik dan kreatif. Strategi menjalin kerjasama dengan para ilustrator lokal menjadi pilihan realistis bagi Sovlo. Kolaborasi ini menuai hasil baik sejak pertama kali dilakukan pada Februari 2021

“Dengan kolaborasi ini Sovlo dan ilustrator lokal dapat bersama-sama melahirkan produk berkualitas dengan ilustrasi beraneka ragam. Jadi konsumen bisa memilih desain yang tepat dan mengekspresikan kepribadian dengan menggunakan produk kami sehari-harinya,” ujar Lidya.


Baca juga: Semiotika Merek


Bahkan, ilustrator yang bekerjasama dengan Sovlo turut mempromosikan produk yang menggunakan ilustrasinya. Hal ini berdampak meningkatkan penjualan.

Sebagai merek anyar, Sovlo membaca konsep yang berbeda. Selain itu, Sovlo juga menghadirkan rasa kepedulian terhadap pekerja industri kreatif, khususnya para ilustrator lokal.

Dengan kampanye #BanggaIlustratorLokal, Sovlo hendak menjalin kolaborasi dengan lebih banyak ilustrator. Kolaborasi ini berupa sistem bagi hasil. Melalui sistem ini, ilsutrator akan mendapatkan keuntungan yang sebanding dengan penjualan hasil karya mereka. 

Kampanye ini merupakan upaya Sovlo mendukung kreativitas para ilustrator lokal, serta sama-sama berkontribusi dalam pemulihan ekonomi yang dibutuhkan Indonesia saat ini.

Melalui kampanye ini, SOVLO menargetkan berkolaborasi dengan sekitar 400-500 ilustrator lokal hingga akhir tahun 2022.***(TP)

Foto: Lotus Group

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *