ArtLords & Koalisi Seni

ArtLords & Koalisi Seni

Taliban Kuasai Afghanistan, ArtLords Fokus Evakuasi Seniman

Jakarta, EKRAF.net – ArtLords, sebuah lembaga kolektif seniman di Afghanistan, saat ini berupaya fokus melakukan evakuasi seniman keluar dari negara itu yang telah jatuh dalam kekuasaan Taliban.

Hal ini disampaikan Omaid Hafiza Sharifi, pendiri ArtLords yang juga aktivis dari Afghanistan, pada sebuah diskusi daring yang diadakan Koalisi Seni, Rabu (10/11).

Omaid menyebut, ArtLords telah menyelamatkan tak kurang dari 54 seniman.

Tindakan keluar dari Afghanistan telah menjadi pilihan bagi para seniman. Mereka terpaksa melarikan diri atau bersembunyi demi menyelamatkan nyawanya.

Bahkan, seniman yang masih berada di Afghanistan telah meninggalkan profesinya dan menghancurkan karyanya agar tidak diringkus Taliban.

Dinamika kebebasan berkesenian di Afghanistan berubah drastis seiring perkembangan politik.

Omaid mengatakan, saat Taliban pertama berkuasa, tidak ada tempat bagi seni.

“Kemudian ada peraturan yang menjamin kebebasan berkesenian, sehingga kami bisa berkesenian lagi meski tetap ada intimidasi dan ancaman karena mural ArtLords menyuarakan pesan antikorupsi dan toleransi,” ujar Omaid.

Ketika Taliban kembali berkuasa, lanjut Omaid, mereka tidak percaya akan keberagaman maupun seni.

“Mural kami dihapus dan diganti propaganda. Semua wajah perempuan juga dihapus di jalanan,” kata Omaid.   


Baca juga: Kekerasan Seksual Berbasis Gender Masih Terjadi, Ini 4 Rekomendasi Koalisi Seni Kepada Negara


Kini ArtLords berencana mengadakan terapi seni untuk para pengungsi Afghanistan dan membuat ulang muralnya di beragam lokasi.

“Kami akan senang sekali kalau ada seniman Indonesia mau menggambar ulang mural ArtLords,” ujar Omaid.

Ke depannya, Omaid berharap satu saat nanti akan ada jaminan kebebasan berkesenian di negara asalnya.  

“Kalau hukum yang menjamin kebebasan itu ada lagi, kami bisa melanjutkan kerja seni di Afghanistan,” kata Omaid.

Ruang bicara problem sosial

Pada kesempatan yang sama, Pemimpin Redaksi Visual Jalanan, Anggraeni Widhiasih, mengatakan, seni merupakan medium yang tepat untuk bicarakan problem sosial di masyarakat. Hal ini tampak dari sejarah perjuangan Indonesia.

“Sebelum kemerdekaan, banyak pejuang Indonesia menyuarakan kebebasan, keadilan, dan hak asasi manusia. Di Surabaya menjelang pertempuran yang sekarang diperingati jadi Hari Pahlawan, banyak grafiti dengan pesan serupa,” ujar Anggraeni.


Baca juga: Bangun Koperasi Itu Simple!


Anggraeni juga melihat, ada banyak kepentingan yang bertarung di ruang publik. Ada warga, pemerintah, korporasi hingga seniman. Tegangan vertikal dengan aparat negara dan horizontal dengan warga kerap terjadi. Saat aparat represif, mural bisa dihapus dan memicu perdebatan, Sebaliknya, tak jarang warga yang tadinya enggan temboknya dihias dengan mural, justru berubah sikap setelah ada program residensi seniman. Mereka protes jika dindingnya tak dihias mural.

Sebagai moderator diskusi daring yang bertajuk Ruang Usik-usik Berebut Dinding: Kebebasan Berkesenian di Dinding Indonesia dan Afghanistan, Dara Hanafi menegaskan, ruang publik yang baik harus memungkinkan pegiat seni bebas mengekspresikan kritiknya, termasuk jika ekspresi kritik itu ditujukan kepada negara.

Seni yang kritis diperlukan karena mampu mengintervensi dan memberikan narasi tandingan.

Dengan kata lain, kebebasan berkesenian yang terjamin merupakan indikator negara dengan ruang publik yang sehat.

“Untuk mencapai kebebasan berkesenian, perlu ada kebijakan yang menjaminnya,” ujar Dara.

Perihal jaminan terhadap kebebasan berkesenian, riset Koalisi Seni pada 2020 menemukan, Indonesia telah merafitikasi sejumlah instrumen hak asasi manusia (HAM) internasional.

Namun, Indonesia juga membiarkan peraturan yang memberi peluang pembatasan HAM secara sewenang-wenang.

Melalui keterangan resminya, Koalisi Seni mengajak pemerintah untuk berperan aktif melindungi kebebasan berekspresi dan berpendapat, termasuk melalui karya seni.***(TP)

Sumber & foto: Koalisi Seni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *