Utang-Luar-Negeri-Indonesia

BI dan Kemenkeu Klaim Struktur Utang Luar Negeri Indonesia Juli 2021 Sehat

Jakarta, EKRAF.netBank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia klaim struktur utang luar negeri Indonesia Juli 2021 tetap sehat.

Hal ini tercermin dari rasio utang luar negeri Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terjaga di kisaran 36,6 persen. Angka rasio ini menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan rasio pada Juni 2021 yang sebesar 37,5 persen.

Hal ini disampaikan BI dan Kemenkeu dalam Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi September 2021 yang dirilis hari ini, Rabu (15/9).

Selain rasio tersebut, data utang luar negeri Indonesia menunjukkan 88,3 persen merupakan utang luar negeri berjangka panjang.

Utang luar negeri pemerintah masih terhitung aman karena 99,9 persen di antaranya tenor jangka panjang. Sedangkan 76,6 persen utang luar negeri swasta juga bertenor jangka panjang.

Utang luar negeri pemerintah

Secara umum, persentase pertumbuhan utang luar negeri Indonesia pada Juli 2021 menurun jika dibandingkan dengan persentase pertumbuhan bulan Juni 2021 sebesar 2 persen (yoy). Data SULNI mencatat, utang luar negeri Indonesia Juli 2021 tumbuh 1,7 persen (yoy), dengan jumlah mencapai 415,7 miliar USD.


Baca juga:


Utang luar negeri pemerintah pada Juli 2021 tercatat 205,9 miliar USD, tumbuh 3,5 persen (yoy). Persentase ini lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan utang luar negeri pemerintah pada Juni 2021 yang sebesar 4,3 persen (yoy).

Dikutip dari rilis resmi Bank Indonesia, penurunan persentase itu merupakan dampak dari penurunan posisi Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan pembayaran neto pinjaman bilateral.

Pemerintah melakukan sejumlah strategi pembiayaan untuk penyelesaian utang luar negeri ini. Pada Juli 2021, pemerintah menerbitkan SBN dalam dua mata uang asing (dual-currency) yaitu USd dan Euro. Cara ini dilakukan untuk memenuhi pembiayaan APBN secara umum.

Strategi penerbitan SBN valuta asing ini memanfaatkan momentum sentiment positif investor yang kuat dan kondusifnya pasar keuangan Amerika Serikat.

Secara lebih spesifik, penggunaan utang luar negeri pemerintah terbagi ke dalam beberapa sektor belanja prioritas. Sebanyak 17,8 persen teralokasi untuk sektor administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib. Sedangkan sektor jasa Kesehatan dan kegiatan sosial mendapatkan alokasi 17,2 persen. Untuk sektor jasa pendidikan, 16,4 persen. Sektor konstruksi mendapatkan 15,4 persen dan sektor jasa keuangan dan asuransi mendapatkan 12,6 persen.

Utang luar negeri swasta

Sedangkan utang luar negeri swasta pada Juli 2021 hanya bertambah sebesar 0,1 persen (yoy). Angka ini lebih rendah dari bulan Juni 2021 (yoy) yang tumbuh sebesar 0,2 persen.

Data SULNI mencatat utang luar negeri swasta pada Juli 2021 mencapai 207,0 miliar USD. Jumlah ini menurun dibandingkan data Juni 2021, yaitu 207,8 miliar USD.

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan utang luar negeri swasta ini adalah bertambahnya utang luar negeri perusahaan bukan lembaga keuangan sebesar 1,5 persen (yoy).

Sedangkan pertumbuhan utang luar negeri lembaga keuangan bertambah 5,1 persen (yoy). Angka ini lebih rendah dari pertumbuhan utang luar negeri Lembaga keuangan pada Juni 2021, yaitu 6,9 persen (yoy).

Berdasarkan sektornya, utang luar negeri swasta terbesar bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin, sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industri pengolahan, yang mencapai 76,6 persen dari total utang luar negeri swasta.***(TP)

Sumber: BI

Foto: rupixen.com / Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *