Instagram-Metaverse

Ini Dua Rute Instagram Menjadi Perusahaan Metaverse

Jakarta, EKRAF.net – Instagram menempuh dua rute untuk bertransformasi menjadi sebuah perusahaan metaverse. Kedua rute itu adalah fokus pada pembuat konten (content creator) dan belanja.

Perihal metaverse, dikutip dari PetaPixel, Mark Zuckerberg mengatakan, bahwa kita dapat menganggap ini (metaverse – Red.) sebagai internet yang diwujudkan dan kita berada di dalamnya. Metaverse diperasikan oleh berbagai pemain dalam cara yang terdesentralisasi.

“Pada dasarnya Anda akan dapat melakukan semua yang Anda bisa di internet pada hari ini, serta beberapa hal yang tidak masuk akal di internet saat ini, seperti menari,” ujar Zuckerberg.

Kata “metaverse” muncul pertama kali dalam sebuah novel fiksi ilmiah di tahun 1992 berjudul Show Crash, karya Neal Stephenson. Di novel ini, dunia virtual tampil sebagai tempat di mana setiap orang dapat berinteraksi melalui avatar. Aturan dan norma sosial di dalamnya juga berbeda dari dunia nyata.

Facebook sebagai sebuah perusahaan teknologi telah bertujuan menghapus penggunanya dari kenyataan dan menambatkan mereka pada dunia fiksi ciptaannya. Dalam hal ini, sebagian besar darinya akan fokus pada realitas virtual. Untuk hal terakhir ini, Facebook telah memasarkan Occulus bagi anda yang ingin masuk ke dalam dunia realita virtual.


Baca juga:


Demi tujuan tersebut, Mark Zuckerberg memutuskan perubahan di Instagram yang mengalihkan fokus dari foto ke video pendek. Instagram Reels akan membuat para penggunanya berada lebih lama di Instagram. Dengan demikian, mereka akan lebih terikat pada tujuan metaverse.

Sedangkan sebuah foto sebagai alasan dasar lahirnya Instagram dianggap terlalu bergantung pada kenyataan di dunia nyata. Tidak memadai lagi untuk visi besar yang dimiliki Facebook.

Melalui sebuah cuitannya di Tweeter, awal Juli 2021, Adam Mosseri menegaskan perubahan pada video di Instagram.

“Saat ini kami fokus pada empat area kunci: Kreator, Video, Belanja dan Pesan,” kata Adam Mosseri.

Dengan kehadiran Instagram Reels, tampak tayangan video, yang biasanya berdurasi pendek, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menontonnya ketimbang satu foto saat kita menelusuri timeline.

Setiap detik waktu yang dibutuhkan untuk menonton video pendek inilah yang bernilai bagi perusahaan.

Hal ini belum tentu mendapat respons positif bagi para fotografer. Namun sebagai perusahaan teknologi, Instagram akan mengikuti data dan ambisinya, yaitu perusahaan metaverse.

Pada kuartal kedua, Mark Zuckerberg sudah mengatakan kepada para investornya, video sudah menjadi semakin penting untuk platform media sosial. Para pengguna Facebook menyediakan waktu lebih lama untuk menonton video.

“Video saat ini terhitung hampir setengah dari seluruh waktu yang dihabiskan pengguna di Facebook,” kata Mark Zuckerberg, sebagaimana dikutip dari Engadget.

Sedangkan Instagram Reel yang notabene pesaing TikTok merupakan kontributor terbesar terhadap pertumbuhan keterlibatan (engangement) pengguna di platform ini.***(TP)

Sumber: PetaPixel dan Engadget

Foto: Claudio Schwarz / Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *