Media-Art-Globale-2021

Media Art Globale 2021 dalam Format Hibrid

Jakarta, EKRAF.net – Media Art Globale (MAG) 2021 akan terselenggara dalam format daring dan luring. Kegiatan secara daring akan berpusat di www.mediaartglobale.com pada 8 – 12 September 2021. Sedangkan kegiatan luring akan diadakan di Jakarta, yaitu M Bloc Space dan Pos Bloc, dan JNM Bloc Yogyakarta pada 24 November – 5 Desember 2021.

Media Art Globale 2021 akan terlaksana selama lima hari berturut-turut secara serentak di 80 kota lainnya di dunia.

Penyelenggaraan festival secara hibrid ini merupakan bentuk adaptasi terhadap situasi saat ini.

“Adaptasi adalah salah satu pilihan untuk terus bertahan hidup, termasuk dalam kehidupan berkesenian, kebudayaan, lingkungan, proses kehidupan, warisan, sistem, dan perubahan prioritas hidup selama masa pandemi ini,” ujar Mona Liem selaku Direktur Program dan Artistik Media Art Globale Festival.

Kolaborasi antara Media Art Globale dan M Bloc Group, Co-founder dan Program Director dari M Bloc Group, Wendi Putranto mengatakan, kedua pihak memiliki visi yang sama.

“Berkolaborasi dengan Mona Liem dari Connected Art Platform selaku penyelenggara Media Art Globale yang memiliki jejaring di Eropa dan ternyata memiliki visi yang sama dengan kami: Membawa para seniman terbaik di tanah air untuk berpameran di kancah internasional sekaligus memperkenalkan berbagai karya seni Indonesia di sana,” kata Wendi dalam sambutannya dalam konferensi pers, Rabu (8/9), di M Bloc Space, Jakarta.


Baca juga:


Penyelenggaraan Media Art Globale 2021tak terlepas dari sebuah festival serupa terbesar di Eropa, yaitu Ars Electronica Festival. Ars Electronica Festival merupakan festival seni media baru yang telah diadakan sejak 1979 di kota Linz, Austria.

Ars Electronica Festival berkolaborasi dengan Media Art Globale dan membuat festival yang serupa sejak 2020.

Tahun ini, tema Media Art Globale 2021, yaitu Infinity, merupakan tanggapan terhadap tema Ars Electronica Festival, yaitu A New Digital Deal.

Media Art Globale 2021 menyediakan ruang daring dan luring, tempat orang belajar, berinteraksi, bereksperimen, dan menciptakan karya seni, produk dan layanan atau inovasi yang merupakan bagian dari gerakan seni media baru.

“Bersama-sama kita menganalisa, menginvestigasi mengenai bagaimana teknologi baru membentuk kehidupan kita dan bagaimana kinerja dari dunia digital. Bagaimana terciptanya koneksi dengan komunitas internasional dan mengambil bagian dalam CultureAction ini,” ujar Christl Baur selaku Head of Festival Ars Electronica, Austria.

Tahun ini, sejumlah seniman telah persiapkan karyanya untuk digelar di Media Art Globale 2021. Gerakan adaptasi ini digambarkan oleh karya seni MAG21 sebagai “Zeitgeist”. Ady Setyawan dan MATER dengan kepeduliannya terhadap isu lingkungan dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Kolektif Nantlab menjawab tantangan perkotaan di Jakarta. “Urb-Sense” memperkenalkan produksi partisipatif dari peta mental virtual kota pada jarak sosial mereka. Widi Pangestu menggunakan proses dalam karyanya: air dan oksigen sebagai symbol ketidakkekalan dalam hidup dan bagaimana manusia terkadang lebih kuatir akan ketiadaan internet dibanding ketiadaan O2 atau Air.

Utami A.Ishii mengangkat sambal yang biasanya sebagai lauk pauk di Indonesia menjadi media eksperimen ilmiah di bawah mikroskop dan akan menjadi karya seni interaktif di antara penonton di lokasi pameran.

Despora dengan Collective Concenssion merefleksikan bagaimana manusia di era ini memaknai permainan tradisional menjadi sebuah instalasi interaktif.***(TP)

Sumber & foto: Media Art Globale 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *