Prediksi OCBC NISP 2021

Inilah Prediksi OCBC NISP Terhadap Ekonomi Indonesia Hingga Akhir Tahun 2021

Jakarta, EKRAF.net – Wealth Management Head, Bank OCBC NISP, Juky Mariska, memprediksi imbal hasil obligasi akan stabil di kisaran 6,0 – 6,5 persen hingga akhir tahun ini. Menurut Juky, setidaknya ada empat hal yang akan mendorong kinerja obligasi hingga diperkirakan imbal hasilnya akan stabil.

Pertama, keterbatasan suplai obligasi. Juky mencermati penurunan imbal hasil obligasi pemerintah selama 10 tahun terakhir sebesar 4,49 persen. Lelang Surat Utang Negara (SUN) di awal Agustus 2021 juga mencatat lonjakan permintaan tertinggi sejak awal tahun ini, yaitu 107,7 triliun Rupiah. Sementara itu serapan lelang hanya 34 triliun Rupiah.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani juga berencana mengurangi penerbitan SUN di paruh kedua tahun ini sebesar 219,3 triliun Rupiah seiring turunnya estimasi defisit anggaran tahun ini.

Kedua, tingginya real yield. Ketiga, rendahnya tingkat inflasi. Angka inflasi bulan Juli tercatat meningkat tipis 0.08 persen. Rendahnya tingkat inflasi ini turut mendorong investor Kembali mengakumulasi aset obligasi. Keempat, ekspektasi suku bunga yang ditahan tetap rendah.

Demikian salah satu prediksi Juky Mariska dalam analisisnya pada outlook ekonomi bulanan yang dirilis OCBC NISP Wealth Panel edisi Agustus 2021.

Wacana perihal Initial Public Offering (IPO) GoTo pada kuartal keempat 2021 ini diperkirakan bisa menjadi katalis bagi pasar saham domestik. Dengan demikian, IHSG juga diproyeksikan berada di kisaran 6,500 – 6,800 pada akhir tahun 2021.


Baca juga:


Juky mencermati IHSG yang menguat di kisaran 5,985 – 6,070 pada Juni lalu. Akhir bulan Juni, IHSG juga naik 1.41 persen. Menurutnya, aliran dana asing yang masuk kembali ke bursa saham domestik hingga 482,2 miliar Rupiah telah menjadi faktor penentu penguatan IHSG.

IPO Bukalapak di awal Agustus 2021 menjadi fokus investor karena menjadi ujung tombak revolusi teknologi di Indonesia. Hal ini mengawali tatanan ekonomi lama ke ekonomi baru.

 Mengenai mata uang Rupiah, Juky mencatat Dollar Index (DXY) mengalami penurunan dari level 92,43 menjadi 92,17 pada akhir bulan. Pada Juli 2021, Rupiah telah menguat sebanyak 0,26 persen terhadap US Dollar. Juky memperkirakan Rupiah akan berada di kisaran 14.300 – 14.500 hingga akhir tahun ini. *** (TP)

Foto: Austin Distel / Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *