Bersiasat saat pandemi

Tak Menyerah, Mereka Bersiasat di Masa Pandemi

Jakarta, EKRAF.net“Jual jeruk organik. Itu untuk biaya operasional dan tabungan sewa tempat,” kata Yustina Widhartantri. Ini hanya salah satu cara Yustina memertahankan kedai Kopi Yor miliknya yang berlokasi di Utan Kayu, Jakarta Timur.

Meski kedai kopinya merupakan bagian dari jaringan bisnis Kopi Yor yang menggunakan sistem waralaba, Yustina mengakui dirinya harus memutar otak untuk memastikan kedai kopinya tetap beroperasi di masa pandemi.  

Situasi pandemi dan pemberlakuan PSBB serta PPKM berdampak serius kepada bisnis minuman kopinya.

“Jadi pendapatan pun turun. Paling parah ya sekarang. Susah sekali tembus 300.000 Rupiah,” ujar Yustina kepada Ekraf.net.

Kini ia hanya mampu mendapatkan rata rata 200.000 Rupiah per hari. Padahal, sebelum pemerintah berlakukan PPKM, kedai kopinya masih bisa mendapatkan omset 400.000 Rupiah per hari.

Dengan pendapatan yang merosot hingga 80 persen, ia harus membayar biaya rutin bulanan seperti jaringan internet, listrik, gaji karyawan, bahan baku serta kebutuhan urgen yang sifatnya dadakan.

Yustina Widhartantri

“Jadi fix selama dua tahun kami tidak ada profit. Hanya ada demi bayar honor atau gaji teman teman,” ujar Yustina.

Sementara itu, Anggi Pramesti, pemilik kedai Kopi Nanglah Aku juga menuturkan suasana yang tidak jauh berbeda di masa pandemi ini.

Ketika dihubungi Ekraf.net, Anggi mengakui bahwa omsetnya menurun.

Menurutnya, konsumen juga pasti kan di kondisi seperti ini juga perlu saving money. Jadi mungkin ada yang mengurangin jajan.

“Alhamdulillah, untuk Kopi Nanglah Aku sampai saat ini masih bisa bertahan,” kata Anggi.

Terkadang, penjualan secara online juga tidak mendatangkan omset sesuai harapan. Pada saat itulah justru banyak pembeli yang beli minuman kopi secara drivethru.  

Hal inilah yang menjadikan usaha minuman kopinya hanya mengalami penurunan omset sekitar 20 persen.

Bersiasat di masa pandemi

Kondisi serba terbatas ini menuntut para pelaku usaha kuliner untuk mencari siasat jitu demi menjaga usahanya tetap bertahan.

Selain menjual jeruk organik, Yustina juga melakukan sejumlah penyesuaian untuk biaya operasional. Setiap bulan, ia melakukan rapat bersama karyawannya. Pada saat inilah mereka membicarakan hal apa saja yang dapat dihemat dari pengeluaran rutin, kecuali pengeluaran untuk protokol kesehatan dan kebersihan kedai. Untuk hal yang satu ini, Yustina tidak mau memilih produk murahan yang tidak terjamin kualitasnya. Ia tetap memilih produk kebersihan yang berkualitas dan terjamin.

Namun, untuk mengoptimalkan situasi serba terbatas ini, Yustina menjelaskan, dirinya membuat penyesuaian operasional berdasarkan data dan situasi konkrit di kedai kopinya.

Yustina mengevaluasi jam dan hari apa saja yang tergolong ramai dan sepi pembeli.

Pada saat ramai pembeli, seperti hari Senin, Selasa dan Jumat, karyawannya bekerja secara normal. Sedangkan di hari lainnya, jam kerja karyawan dikurangi demi efisiensi.

Anggi Pramesti

Yustina pun menceritakan satu siasat uniknya.

“Teman–teman yang temannya banyak dan kadang memaksa nongkrong lama itu sengaja saya tugaskan di hari yang sepi. Jadi kalau mereka lama duduk di kedai, malah bagus untuk memancing pengunjung,” ujarnya.

Anggi justru punya siasat yang berbeda. Ia mengandalkan promo di penjualan online pada momen tertentu.

Selain promo, Anggi juga memberi hadiah yang berkaitan dengan protokol kesehatan (prokes) seperti hand sanitizer dan masker untuk menarik pembeli.

Terkait prokes ini, Anggi tetap menerapkannya secara ketat di kedainya yang berlokasi di Grand Galaxy City, Bekasi.

“Kami menjaga prokes juga untuk para karyawan supaya tetap sehat dan menjaga kebersihan, supaya produk kami saat sampai ke konsumen tetap aman dikonsumsi,” kata Anggi.***(TP)

Foto: Katarzyna Grabowska / Unsplash  dan dokumentasi pribadi


Baca juga:



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *