Jembatan Barelang Batam Kemenparekraf

Tanggapi Rencana Travel Bubble Indonesia Singapura, Epidemiolog Ungkap Kunci Utamanya

Jakarta, EKRAF.net – Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman memberikan kunci utama untuk rencana travel bubble di Indonesia bagi turis Singapura.

Sebagaimana rilis pers Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Rabu (20/1/2021), Sandiaga Uno selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyampaikan peluang travel bubble bagi turis Singapura kepada Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan.

Menurutnya, travel bubble bukan sesuatu yang tidak mungkin. Untuk terjadinya travel bubble, Dicky menyarankan kepada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif agar isu kerjasama menangani pandemi ini harus diangkat dan menjadi konsensus, komitmen bersama di level regional.

“Kalau tidak, ya tidak akan bisa. Harus bersama. Karena ada kesepakatan atau indikator yang disepakati bersama. Nanti barulah kita bisa buka travel bubble. Nah ini yang harus kita bangun,” kata Dicky kepada ERAF.net.

Ketika sudah ada kesepakatan bersama, negara yang mencapai indikator yang disepakati dapat mulai membangun travel bubble.

“Bisa juga ditunjuk. Misalnya masing masing negara akan menunjuk mana obyek atau wilayahnya yang akan dijadikan prioritas. Nah ini akan dijadikan target bersama. Nanti semua orang akan menilai wilayah itu secara periodik, entah setiap bulan atau setiap dua bulan. Ini yang harus dilakukan,” ujar Dicky.

Selain itu, menurutnya, jika berbicara mengenai pariwisata di satu wilayah tertentu, seperti travel bubble, tidak akan lepas dan harus mengacu pada target pengendalian pandemi yang berfokus pada kesehatan. 

“Misalnya kita ingin melakukan satu koridor, atau travel bubble dengan negara negara tertentu, prinsip yang harus dipahami dan dituju, tentu adalah bahwa semua negara akan melihat bagaimana pengendalian pandeminya,” ujar Dicky

Untuk mengamati pengendalian pandemi di wilayah tujuan wisata, Dicky menyebutkan tiga hal yang menjadi faktor wajib.

Pertama, tes positivity rate harus minimal 5 persen di lokasi yang menjadi prioritas travel bubble.

“Misalnya Bali, Batam, Bintan. Ya di lokasi itu harus diarahkan pada test positivity rate yang di bawah atau sama dengan 5%.  Karena negara lain baru akan mau kalau itu terjadi,” kata Dicky.

Artinya, untuk mencapai tes positivity rate ini, caranya adalah kembali ke strategi yang sangat mendasar, yaitu tracing, testing, isolasi, karantina dengan prosedur 5M yang memadai dan optimal.

Kedua, daerah tujuan travel bubble harus tidak ada angka kematian karena Covid 19 selama dua minggu atau satu bulan.

“Jika ada angka kematian, walau satu saja, itu akan jadi pertanyaan besar atas kemampuan pengendalian di wilayah tersebut,” ujar Dicky.

Ketiga,  manajemen pengendalian pandemi di wilayah itu memadai dan bisa memberikan kepercayaan diri bagi para turis, baik asing maupun domestik. Dengan demikian mereka dapat melakukan aktivitas rekreasi di wilayah itu.

Lebih lanjut, Dicky menjelaskan, yang termasuk manajemen pengendalian pandemi adalah sistem deteksi di bandara, fasilitas kesehatan seperti ketersediaan ICU yang cukup, tenaga kesehatan, kapasitas rumah sakit.

Sedangkan perihal persiapan Sandiaga terhadap travel bubble, yaitu melobi agar empat daerah untuk menjadi prioritas vaksin, yaitu Bali, Jakarta, Batam dan Bintan, Dicky menilai, vaksin tidak bisa hanya jadi satu hal utama. Tetap harus ada mekanisme testing, screening.

“Apakah perlu ada karantina atau tidak, itu nanti dibahas, dibuat algoritmanya. Termasuk bahwa sistem di daerah tersebut akan mampu merespons hal hal yang tidak terduga. Sudah ada algoritma, alurnya. Sehingga orang yang datang itu akan percaya diri,” ujarnya.*** (TP)

Foto: Kemenparekraf/ Azhari Setiawan


Baca juga:



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *