Sociopreneur

10 Hal Ini Penting Untuk Sociopreneurship!

EKRAF.netDunia bisnis tidak melulu bicara soal keuntungan (profit) yang digunakan sebagai modal usaha dan membesarkan bisnis. Dunia bisnis saat ini juga bicara soal dampak sosial dari salah satu jenis wirausaha, yaitu kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) alias sociopreneurship. Pengusaha yang punya bisnis berwarna sosial ini kerap dilabeli sociopreneur.

 Sociopreneurship berkaitan erat dengan dampak sosial yang ditimbulkan dari bisnis yang dijalankan. Elisa Birnbaum telah merangkum 10 faktor yang menentukan keberhasilan sebuah sociopreneurship dalam bukunya yang berjudul In the Business of Change: How Social Entrepreneurs are Disrupting Business as Usual.

Sebagai penerbit sekaligus editor Majalah SEE Change di Toronto, Kanada, Elisa telah melakukan kerja jurnalistik terhadap beragam model sociopreneurship terhadap 65 organisasi selama lebih dari 10 tahun.

Berikut ini adalah 10 faktor yang kesuksesan bagi sebuah sociopreneurship.

  1. Menggabungkan bisnis dengan tujuan sosial

Menurut Elisa, model filantropi tradisional berupa donasi, amal dan bantuan sukarela tidaklah cukup menjawab permasalahan sosial saat ini.

“Kasihan bukan bagian dari narasi,” tulis Elisa dalam bukunya.

Sebagaimana model bisnis pada umumnya, kemandirian finansial, kualitas, daya saing dan martabat merupakan tujuan utama suatu kewirausahaan sosial. Dengan kata lain, cara berpikir yang khas bisnis harus bisa memastikan aspek keberlanjutan (sustainable) dari sociopreneurship.

Dari tujuan utama ini saja, Elisa sudah menunjukkan bahwa tantangan kewirausahaan sosial adalah menyeimbangkan tujuan dengan keuntungan (profit), misi dengan pendapatan. Selain itu, tantangan lainnya adalah kompleksitas masalah sosial, budaya dan politik.

Salah satu sociopreneurship yang dijadikan contoh oleh Elisa adalah Bright Endeavours. Entitas bisnis ini mempekerjakan kaum ibu dari kalangan marjinal untuk  membuat lilin dari bahan baku kedelai. Selain itu, Bright Endeavours juga mengajarkan literasi keuangan serta soft skill kepada mereka.

Sedangkan Urban Pastoral berkarya di bidang bercocok tanam secara hidroponik yang sehat dengan mengandalkan sumber lokal dan berupaya menciptakan lapangan pekerjaan.

Kewirausahaan sosial lainnya seperti Canopy berfokus pada praktek etis dan tanggung jawab lingkungan dalam rantai pasokan. Sedangkan Oliberte menggarap isu praktek perdagangan yang adil untuk produk sepatu yang dibuat di Etiopia.

2. Inovasi

Kata kunci yang satu ini juga harus dipegang oleh para sociopreneurs. Mereka harus berinovasi dengan berbagai cara, seperti memasuki ekosistem digital, produk daur ulang, bahan baku yang baru dan aliansi industri.

Bureo, misalnya, membuat skateboard dari daur ulang jaring ikan yang digunakan para nelayan. Dalam menjalankan bisnisnya, Bureo bekerja sama dengan Carer dan dana ventura Patagonia, Tin Shed Ventures.

Contoh lain hadir dari Copia yang menyelesaikan problem limbah makanan dan kelaparan dengan cara menyediakan pasar secara online. Dengan cara ini, Copia menghubungkan pemasok, yakni restoran dan penyelenggara acara, dengan pembeli, yaitu organisasi nirlaba yang menyediakan makanan bagi mereka yang membutuhkan.

3. Definisikan masalah

Dalam risetnya, Elisa menemukan bahwa banyak pengusaha yang memulai bisnis sosialnya dari sebuah ide kecil. Sebagian lainnya justru faktor ketidaksengajaan hingga jalan hidupnya menjadi seorang pengusaha. Bahkan, ada pengusaha yang terdorong menjalankan bisnis sosialnya lantaran dirinya memiliki keterkaitan personal dengan sebuah masalah sosial yang dialaminya sendiri.

Maka benarlah sebuah ungkapan, “Kebutuhan sungguhlah ibu dari suatu penemuan.”

The Last Mile menangani tantangan para mantan napi dan residivis dengan menawarkan kelas dan pekerjaan pengodean komputer. Usaha ini tumbuh sebagai “keterlibatan secara kebetulan yang tidak direncanakan” dengan masalah mencegah mantan narapidana masuk penjara lagi. Seperti sebuah startup, perusahaan sosial dapat tumbuh secara bertahap.

4. Kemitraan

Kemitraan yang selaras dan setara akan memberikan peluang berharga untuk tumbuh, bimbingan, dan peningkatan kualitas. Kemitraan ini dapat terjalin antara konsumen dan perusahaan sosial dengan cara mengangkat isu sumber daya yang secara etis tidak merugikan pihak manapun.

Dengan demikian, akan terbentuk kesadaran di pihak konsumen perihal isu tertentu ketika hendak membeli dan mengonsumsi produk tertentu.

Bahkan, dalam hal pemasaran dan penjualan, perusahaan sosial dapat menjalin kerjasama dengan perusahaan lainnya yang lebih besar.

Canopy memulai perjalanan produk ramah lingkungannya dengan mempromosikan kertas yang terbuat dari jerami dan bukan dari hutan purba. Canopy telah meyakinkan penerbit besar seperti Random House dan Canadian Geographic untuk “menghijaukan” praktik bisnis mereka. Produsen pakaian seperti Zara, H&M, dan Patagonia juga telah menandatangani janjinya untuk menggunakan lebih banyak serat daur ulang dalam pakaian mereka.

5. Keterlibatan komunitas

Elisa mengingatkan, wirausaha sosial haruslah melibatkan komunitas setempat. Sebuah wirausaha sosial harus bekerja di dalam dan bersama masyarakat setempat di setiap aspek bisnisnya. Untuk mewujudkan hal ini, perlu ada pemahaman yang baik terhadap dinamika kultur setempat.

Keterlibatan ini bisa berupa saling berbagi informasi dan memberdayakan segala potensi lokal yang ada.

Menurut Elisa, hal ini akan meningkatkan kapasitas masyarakat lokal dan nantinya mendukung bisnis sosial tersebut.

Setidaknya ada 4E yang menurut Elisa dapat menentukan kesuksesan keterlibatan masyarakat lokal dalam sebuah bisnis sosial, yaitu lingkungan (environment), emosi (emotion), pendidikan (education) dan ekonomi (economics).

Ocean Academy melibatkan siswa sekolahnya sebagai pemandu program ‘bersepeda dengan tujuan’ (bike with purpose) untuk pariwisata berkelanjutan. Sedangkan Sustainable Organic Integrated Livelihoods (SOIL) membangun fasilitas sanitasi yang lebih baik dengan pengadaan, pelatihan, desain dan pemeliharaan secara lokal.

6. Skala

Semua pengusaha mengerti, menjalankan sebuah bisnis harus bermain secara seimbang. Seorang pengusaha harus bisa menyeimbangkan segala aspek bisnis agar mendapatkan keuntungan maksimal. Namun, dalam hal bisnis yang bercorak sosial seperti sociopreneur haruslah menyeimbangkan keuntungan dengan tujuan di skala manapun.

Meski baru di tahap awal dan skala kecil, sebuah bisnis sosial harus menyeimbangkan kualitas, filosofi di balik bisnis, branding, operasional dan lainnya.

Terlebih, Elisa juga mencermati kemungkinan sulitnya menolak pendanaan ketika terjadi krisis finansial.

Elisa mencontohkan, Elivs & Kresse yang berfokus pada penataan ulang dan daur ulang bahan limbah yang selama ini terbuang percuma begitu saja.

7. Keberlanjutan finansial

Seperti sudah disinggung di atas, isu keberlanjutan finansial bagi sebuah sociopreneurship itu penting. Saat ini sudah begitu banyak pilihan yang tersedia, seperti crowdfunding, hibah pemerintah, lembaga donor, yayasan, dan sebagainya.

Investasi yang punya misi sosial pun harus punya kesabaran untuk merangkak, berjalan pelan hingga nantinya akan berlari kencang.

Elisa mencontohkan “pay for success”, sebuah model yang juga dikenal sebagai model pinjaman berdampak sosial (social impact bonds), merupakan cara baru untuk meningkatkan kemampuan finansial dalam berbagai persoalan sosial. Model ini menyatukan para investor dengan agen pemerintahan lokal hingga provinsi untuk mendanai dan meningkatkan layanan sosial di masyarakat.  

8. Mendongeng

Cerita sangat berpengaruh.“Mereka membawa pengaruh yang luar biasa sebagai alat keterlibatan, pengaruh, dan insentif,” kata Elisa.

 Para pendiri sociopreneurship tidak boleh hanya mengandalkan narasi tanpa kualitas dan daya saing yang memadai dalam penawaran produk atau jasa.

FiberShed mempromosikan pakaian yang bersumber secara lokal untuk mengurangi jejak ekologis. Wirausaha sosial ini menerbitkan cerita dan foto desainer, peternak dan pengrajin di situsnya.

Sea to Table mempromosikan praktik etis penangkapan ikan yang berkelanjutan melalui cerita komunitas nelayannya.

City Girl Coffee mempromosikan perkebunan kopi yang dimiliki atau dikelola oleh wanita di seluruh dunia. Bisnis sosial ini menggunakan cara bercerita untuk meyakinkan pelanggannya bahwa mereka berkontribusi pada tujuan yang lebih besar dan tidak hanya sekadar membeli kopi premium.

Sweet Beginnings menjual madu alami, dan berkembang menjadi produk perawatan kulit yang mengandung madu di ruang mewah. Ia memanfaatkan kisah kekuatan peternakan lebah.

9. Metriks

Menurut Elisa, para pendiri dan pemangku kepentingan perlu melakukan penelitian untuk mengetahui apakah mereka berada di jalur yang benar. Studi dasar (baseline) dan studi banding (benchmark) penting dalam hal ini.

Evaluasi eksternal, validasi dan penegasan dapat menjadi obyektif dan kredibel, namun sekaligus mahal bagi seorang wirausahawan yang modal finansialnya sangat terbatas.

Meski demikian, hasil riset tentang dampak dari bisnis bercorak sosial ini akan menjadi informasi sangat penting bagi keberlangsungan bisnis itu sendiri.

Rebuilding Exchange menunjukkan bagaimana furnitur, tas, dan tali dapat dibuat dari bahan sisa atau barang bekas. Rebuilding Exchange memiliki berbagai ukuran dampak, termasuk jumlah material yang dialihkan dari tempat pembuangan sampah.

Firma riset Abt Associates melakukan studi selama lima tahun dan menemukan bahwa Citizen Schools berdampak positif pada harga diri dan perilaku pro-sosial. Di sini, ada lebih banyak pendidikan ketimbang nilai ujian.

10. Sistem pendukung

Elisa mendokumentasikan pula berbagai sistem dukungan untuk wirausaha sosial seperti inkubator, akselerator, jaringan, lokakarya, program bimbingan, beasiswa, kompetisi lapangan, dan gelar pendidikan.

Chirp Chips mendapatkan keuntungan dari Kickstarter dan ikut serta dalam MassChallenge, program fellowship Echoing Green, dan inkubator Plug and Play.

Perusahaan perawatan kesehatan Hulu mendapat manfaat dari jaringan Ashoka Fellows, yang membantu validasi selama penggalangan dana.

Singkatnya, wirausaha sosial memainkan peran penting dalam mengubah perekonomian, mengatasi tantangan keberlanjutan, inklusi, dan keadilan. Bisnis yang demikian benar-benar dapat menjadi “kekuatan untuk kebaikan”, karena seorang sociopreneur menggali lebih dalam dinamika perubahan di masyarakat.** (TP)

Foto: Unsplash


Baca juga:



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *