Arsitektur

Bosan WFH, Mau WFO Tapi Takut?

Oleh: Reza W. Martunus*

Pastikan bahwa lingkungan kantor Anda sudah melakukan tindakan pencegahan penularan (infeksi) penyakit. Sulit menjamin tidak terjadi penularan dari manusia ke manusia sebab tergantung perilaku masing-masing.

Apa yang mungkin dilakukan oleh pengelola kantor atau gedung?

Ada dua hal, yaitu menyediakan lingkungan yang terkendali dan menyediakan lingkungan yang sehat.

Lingkungan terkendali

Artinya seluruh proses dan alur terpantau dan memiliki ukuran, misalnya standar operasional dan prosedur (SOP): memilah yang boleh masuk dan tidak dengan memindai suhu tubuh, mengenakan masker, harus cucian tangan, dan aturan bekerja, seperti kapasitas 50%.

Lingkungan sehat

Artinya mereka yang berada di dalam gedung atau ruang kantor tidak berisiko tertular dari sekitarnya. Secara aktif dilakukan dengan disinfeksi, pembersihan rutin dan pemeliharaan yang terjadwal. Secara pasif dengan penggunaan material-material yang mudah dibersihkan dan tata udara yang mampu menghasilkan kualitas udara yang aman dari partikel berbahaya. Sebab tidak terlihat, masalah udara dapat kita anggap krusial.

Technology is the order of the day!!!

Ada empat pilihan mengupayakan lingkungan (ruang) yang sehat dengan teknologi tata udara:

  1. Hyper dry mist

Teknologi ini cocok untuk ruang kecil, misalnya ruang kantor privat di co-working space atau jika ruang kerja anda terbagi dalam ruang-ruang kecil. Sasarannya adalah permukaan-permukaan bidang atau peralatan. Cara kerjanya teknologi ini bermula dari modulator yang memompa cairan berisi H2O2 6% dari botol yg terkoneksi, memecahnya menjadi OH- (plasma). Plasma berukuran nano ini disemprotkan ke udara sehingga menempel ke partikel udara untuk didisinfeksi. Teknologi ini dilengkapi dengan silver ion, sehingga saat luruh ke permukaan atau lantai, akan berfungsi sebagai antimikroba. Karena ukurannya nano, kita tidak akan terlalu lihat semburannya.

2. Air purifier medical grade

Kita tentu sudah akrab dengan berbagai macam dan bentuk air purifier. Tapi hati-hati! Tidak semua air purifier memiliki kemampuan hingga kategori medical grade.

Apa bedanya air purifier biasa dengan yang medical grade? Perbedaannya terletak pada kemampuan teknologi menangkap partikel berukuran nano, lalu mendisinfeksinya.

Kita juga perlu hati-hati terhadap klaim bahwa sebuah produk termasuk medical grade. Kita harus cek apakah produk itu telah lulus uji medical grade dari badan sertifikasi dunia, termasuk Balai Besar Lab Kesehatan (BBLK) RI.

Lalu bagaimana disifenksi partikel nano dilakukan?

Ada dua cara, yaitu ionisasi precipitasi disinfeksi (electric shock) dan dielectric barrier discharge plasma. Cara yang kedua ini adalah disinfeksi dengan plasma yang dihasilkan dari coil ionisasi, terhadap udara di dalam alat. Namun ada juga yang dilengkapi dengan HEPA Filter.

Cara kedua ini pemeliharaannya juga relatif mudah, bisa pemeliharaan mandiri sebab hanya ganti carbon filter, kurang lebih1 tahun sekali atau bisa lebih lama, tergantung kondisi.

3. Filtrasi dan disinfeksi

Sistem ini cocok untuk kantor yang punya sistem tata udara sentral. Menggunakan alat yang di-implant, di-ducting lalu melakukan filtrasi dan disinfeksi udara yang dialirkan. Cara ini lebih kompleks sebab harus masuk dalam sistem yang besar sehingga perawatannya akan melibatkan teknisi khusus juga.

Jadi kalau kita sewa ruang kantor di gedung kita bisa cek apakah gedung sudah menerapkan sistem ini untuk kesehatan lingkungan kerja. Jika belum, kita dapat bawa sendiri dua sistem sebelumnya.

4. AC presisi dan disinfector

Nah, sistem ini adalah sistem yang bisa dikatakan paling menjamin tapi juga paling kompleks. Biasanya digunakan di fasilitas-fasilitas kesehatan seperti rumah sakit. Sistem ini merupakan satu rangkaian sistem tata udara utuh mulai dari fungsi pendinginan, filterisasi, disinfector, sekaligus suplai udara. Maka sistem ini juga mampu mengatur suhu dan kelembaban.

Sama seperti sistem sebelumnya, alat dan sistem ini cocok untuk diimplementasikan oleh pengelola atau pemilik gedung.

Alat-alat dan sistem-sistem tersebut memang tidak murah. Maka sebaiknya kita kaji dahulu sistem dan spesifikasi yang kita butuhkan dengan berkonsultasi pada ahlinya. Jangan sampai kita menggunakan alat dan sistem yang berlebih dari kebutuhan kita sebab akan mubazir, atau kurang dan tidak sesuai dengan kebutuhan kita. Bila anggaran masih dirasa berat, Anda bisa mencoba alternatif lain dengan leasing atau bahkan sewa. Lagi pula, dianjurkan atau tidak oleh pemerintah, pencegahan tetap diperlukan demi keselamatan dan kesehatan kita, terlebih mengingat banyak ahli mengatakan bahwa wabah ini belum akan segera berakhir.***


Reza W. Martunus, seorang arsitek profesional, anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan sukses meraih IAI Ward (2002). Ia juga pernah masuk nominasi Aga Khan Award di bidang arsitektur. Mantan staf khusus direksi/ manajer proyek RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (2013-2019) ini merupakan Direktur DOMA

1 thought on “Bosan WFH, Mau WFO Tapi Takut?

  1. Mantap pak Reza, saya setuju dengan kebijakan tersebut. Memcegah lebih baik daripada mengobati penyakit, apalagi ini masih musim Covid 19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *