disrupsi business team

Ingin Mulai Bisnis di Era Disruptif? Anda Butuh Lima Pola Pikir Ini!

Jakarta, EKRAF.net “…saya sering mendengar proposal untuk media sosial online baru atau platform kolaborasi untuk bersaing dengan Slack atau Facebook. Apa yang saya tidak cukup sering lihat adalah solusi baru yang memaksa saya untuk memikirkan kembali bagaimana kita bekerja bersama, atau yang benar-benar menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk membuat proses kolaborasi lebih produktif.”

Demikian kegundahan seorang Martin Zwilling (@StartupPro), pakar bisnis asal Amerika Serikat, mengenai situasi dunia bisnis saat ini.

Ia merindukan solusi baru, yang bukan hanya sekadar inovasi tambahan dari apa yang telah ada selama ini. Solusi baru ini haruslah sebuah terobosan yang belum pernah ada.

Martin mengingatkan, “Investor ingin mendanai solusi terobosan.”

Saat ini, teknologi yang bersifat disruptif sangat banyak jenisnya. Sebut saja, Internet of Things (IoT), realitas virtual (virtual reality), robotika fungsi tingkat tinggi, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Namun, yang perlu kita ketahui adalah itu semua bukanlah solusi itu sendiri. Lalu apa yang dibutuhkan agar itu semua berguna? Menurut Martin, teknologi yang disruptif itu perlu “integrasi ke dalam kerangka kerja inovatif untuk menyelesaikan masalah yang nyata dari para pelanggan.”

Apa artinya?

“Integrasi itu adalah terobosan yang harus Anda cari sebagai wirausahawan,” kata Martin.

Yang diperlukan adalah pola pikir untuk melihat apa yang luput dari penglihatan kita selama ini. Dengan demikian, seorang pengusaha bisa menciptakan solusi yang sungguh baru.

Pertanyaannya kemudian, Bagaimana anda sebagai pengusaha dapat mengubah pola pikir semacam itu? Perubahan cara berpikir yang seperti apa, yang dapat menciptakan bisnis yang disruptif?

Inilah lima pola pikir itu

Pertama, pola pikir anda harus berorientasi pada pelanggan (customer-centric), bukan sekadar berorientasi pada teknologi.

Seperti yang telah Martin ingatkan tadi, kebutuhan pelanggan harus dapat terpenuhi, terselesaikan oleh teknologi canggih yang anda ketahui. Jangan hanya mendorong kecanggihan teknologi sejauh mungkin. Kemajuan teknologi tidak berarti segalanya dalam bisnis.

“Ingat, tujuan Anda adalah membangun bisnis yang sukses, dan pelanggan mewujudkannya,” ujar Martin.

Kedua, berpikirlah lebih mendalam untuk validasi ide anda sebelum anda bergerak maju lebih jauh.

Martin mengingatkan, “Ide tingkat tinggi jarang membuat solusi bisnis yang baik.” Maka yang dibutuhkan adalah menemukan cara yang baru untuk menghubungkan berbagai hal.

Dengan demikian, Anda akan berpeluang menemukan sesuatu yang sungguh unik dan menjadikan solusi Anda mudah diingat bagi para pelanggan dan investor.


Baca juga:


Ketiga, berelasi dengan para pakar dari berbagai bidang untuk mendapat ide.

Saat bicara tentang ide, sering para pengusaha terlalu takut berbagi ide. Khawatir jika ide yang dianggapnya orisinil, dicuri pihak lain. Mereka juga merasa takut untuk belajar hal yang dibutuhkan untuk mengubah ide menjadi solusi bagi pelanggan, terutama yang bersifat disruptif.

“Itu salah!” tegas Martin.

Martin justru mengajak Anda sebagai pengusaha untuk aktif “mengumpulkan wawasan dari para ahli di luar industri Anda untuk memperluas pemikiran Anda.”

“Pertimbangkan apa yang bisa Anda pelajari dari industri lain yang mungkin bisa beradaptasi dengan Anda,” kata Martin.

Dengan kata lain, Anda harus selalu ingin tahu dan optimis.

Keempat, bangun prototype dan bereksperimen dengan pelanggan yang nyata.

Anda bisa memikirkan ide bisnis Anda selama bertahun-tahun. Namun, itu hanya akan tetap ada sebagai ide di kepala Anda. Tidak akan terwujud secara nyata dan Anda tidak akan merasakan hasilnya.

“Pada titik tertentu Anda harus mengambil tindakan,” kata Martin.

Dengan menunjukkan pengalaman Thomas Edison ketika menciptakan bola lampu alias bohlam, Martin mau menegaskan, Thomas Edison telah belajar lebih banyak dari prototype, ketimbang teori dan insting. Ia tidak pernah menyerah pada gagasan bohlamnya.

Anda tentu ingat kutipan pernyataannya, “Saya tidak gagal. Saya baru saja menemukan 10.000 cara yang tidak akan berhasil.”

Kelima, pelihara pendukung Anda dan bermitralah dengan ragam keterampilan yang saling melengkapi.

Seorang mentor dan pendukung akan membuat Anda tetap fokus dan positif. Selain itu, mentor dan pendukung juga akan membantu Anda untuk mengembangkan kemampuan berbicara kepada investor dan pelanggan dengan orisinalitas, kredibilitas dan kepercayaan diri Anda.

“Kumpulkan tim dengan berbagai keterampilan yang Anda butuhkan dalam bisnis Anda, termasuk pengembangan, operasi, dan pemasaran,” ujar Martin.

Dengan demikian, Anda akan mendapat banyak masukan dari mereka yang mendukung Anda.

Inilah lima pola pikir yang harus Anda terapkan untuk menciptakan bisnis di tengah era disruptif. Maka, Anda akan memiliki bisnis yang mengganggu (disruptif) bagi bisnis lainnya yang tidak seinovatif bisnis Anda.

Akhir kata, Martin mengatakan,”Sukacita sejati, kepuasan, dan potensi penuh datang dari terobosan yang mengubah dunia.” ** (TP)

Sumber: Martin Zwilling/ Inc.com

Foto: Unsplash.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *